Tampilkan postingan dengan label Tokoh. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Tokoh. Tampilkan semua postingan

Selasa, 26 April 2011

Butet Kertaredjasa: Kesuksesan yang Melahirkan Kekhawatiran

April, 21st 2011 |  by  Iwan Setiawan  | 0

Pada 29–30 Maret lalu, Jakarta kedatangan 'tamu' dari Yogyakarta yang menggelar sebuah pentas Laskar Dagelan: From Jogja With Love lengkap dengan sejumlah kuliner khas Jogja, seperti gudeg, sate klathak, coklat roso, dan lainnya. 

Photo by: Dokumentasi Istimewa
Selama dua hari, publik Jakarta diajak mengenal kembali Yogyakarta dengan cara yang menarik dan mengenyangkan. Pentas Laskar Dagelan: From Jogja With Love merupakan bagian dari serangkaian program rutin yang bakal di gelar Indonesia Kita. Apa itu Indonesia Kita dan apa saja aksi berikutnya? Butet Kertaredjasa, salah satu pentolan Indonesia Kita bicara.
Apa ide yang melatarbelakangi 'gerakan' Indonesia Kita? Bertolak dari keprihatinan adanya upaya dari berbagai pihak untuk menyeragamkan Indonesia. Ada upaya menggugurkan keyakinan bahwa pilihan untuk menjadi Indonesia yang majemuk adalah sebuah pilihan yang keliru. Saya meyakini, apa yang telah ditentukan oleh para pendiri bangsa ini bahwa Indonesia yg kita bangun adalah Indonesia yang senantiasa membuka diri dan selalu berdialog antar-entnik adalah sebuah kebenaran. Maka, saya mencoba mengajak khalayak untuk semakin meyakini bahwa kekayaan budaya kita yang majemuk itu sebuah berkah. Kita bisa menjadi Indonesia dengan kekuatan seni budaya.
Laskar Dagelan, sebagai proyek pertama, rasanya cukup berhasil. Apa masukan untuk pentas Indonesia Kita selanjutnya yang didapat dari Laskar Dagelan?
Kesuksesan itu melahirkan kekhawatiran, yaitu jangan sampai ada persepsi bahwa event Indonesia Kita harus lucu-lucuan seperti Laskar Dagelan. Khalayak bisa punya harapan mendapatan ger-geran aja. Jika ini yang terjadi, tujuan utama bisa meleset. Sebab, yang kami inginkan melalui Indonesia Kita adalah orang semakin bangga dan percaya diri sebagai orang Indonesia yang menjunjung pluralisme. Semakin percaya bahwa jalan kesenian merupakan juga bisa dijadikan ikhtiar untuk menjadi Indonesia yang sampai hari ini masih mencari bentuk.
Untuk Indonesia Kita edisi 27 dan 28 Mei mendatang, Beta Maluku, mungkin akan memperlihatkan bentuk yang lain. Bukan sebuah komedi. Tapi benar-benar pertunjukan musikal yang menghadirkan kekuatan vokal dan musik. Itu unggulan Maluku. Kami akan mengemas potensi luar biasa dari budaya Maluku secara apik, supaya tidak sekadar show ala 'Maluku Night'. Tetap harus ada pesan keiindonesiaan di dalam setiap penampilan Indonesia Kita.
Evaluasi lainnya adalah soal pengelolaan produk kulinernya. Kemarin kami benar-benar nggak menduga. Ternyata, respons masyarakat begitu luar biasa sehingga kami kelabakan melayani ribuan orang yang tiba-tiba menyerbu TIM. Tentu semua ini akan kami antisipasi dengan memberikan pelayanan yang lebih baik.
Apakah mengikutsertakan Hiphopdiningrat memang ada kesengajaan mendapat penonton yang lebih muda? Hiphopdiningrat adalah salah satu bukti adanya pergerakan kebudayaan di Jogja. Jogja bukan sebuah wilayah yang kebudayaannya stagnan, mandeg, dan kuno. Tapi sebuah entitas budaya yang terbuka dan selalu siap melakukan dialektika kebudayaan. Kami ingin kasih lihat kepada mereka yang apriori terhadap Jogja. Ini, lho, wajah kebudayaan Jogja hari ini, supaya mereka tidak lagi melihat Jogja secara keliru. Bahkan anak mudanya bisa hadir membahasakan dirinya secara kontemporer tanpa harus mengkhianati nilai-nilai tradisinya. Bukankah ini sebuah kekuatan lain untuk ‘menjadi Indonesia’? Keren, 'kan?
Muatan 'politis' dalam Lakar Dagelan cukup kental tentang keistimewaan Jogja. Apakah ini kesengajaan sebagai bentuk kritik pada pemerintah? Lebih tepatnya, kami sengaja kasih lihat kepada khalayak, termasuk orang "pusat", ini lho wajah kebudayaan Jogja yang dituduh monarki itu? Bahwa kami diam-diam telah mempraktikkan sebuah kehidupan demokrasi dalam kebudayaan tanpa harus diajari oleh juklak politik. Seperti kata Pak Daoed Joesoef, dalam konteks berdemokrasi di Jogja, "Jangan seperti mengajari ikan berenang." Tanpa ada kehidupan demokrasi yang sehat, bercanda ala Laskar Dagelan dan Hip Hop berbahasa Jawa itu pasti tak akan hidup.
Selanjutnya, apa rencana Indonesia Kita?Tahun ini, setelah Laskar Dagelan, masih ada lima event lagi yang kami garap. Bulan Mei mendatang akan tampil Beta Maluku. Lalu, seterusnya budaya Jawa Timur, Melayu, folklore dari berbagai wilayah, dan Kalimantan. Ini memang sebuah pilot project. Kalau berhasil akan kami teruskan tahun depan dengan mengangkat wilayah-wilayah kebudayaan lain.
Kenapa Maluku? Cuma masalah jadwal saja. Nanti semua wilayah akan kami sapa, sejauh masyarakat budaya setempat berada dalam visi yang sama dengan kami. Kesediaan membuka diri dan berdialog, serta meyakini bahwa "menjadi Indonesia" yang majemuk adalah impian bersama, pastilah dimungkinkan lahirnya kerja sama yang indah.
Anda sendiri, masih akan terus aktif bermonolog, 'kan?Tahun ini, saya masih ingin mengelilingkan monolog Kucing ke beberapa kota. Bulan April dan Mei ini kami akan tur ke Kudus, Salatiga, Semarang, Solo, Pekalongan, Tegal, dan Purwokerto. Dilanjutkan, bulan September dan Oktober ke beberapa kota di Sumatra. Selain itu, saya juga disibukkan dengan kegiatan Yayasan Bagong Kussudiardja, melakukan workshop kreativitas berbasis seni untuk kalangan non-sen

Sabtu, 09 April 2011

Saya dan Julia Kaergel, Ilustrator Asal Jerman

Julia Kaergel
Saya berbincang dengan seorang ilustrator asal Jerman. Karyanya sempat dipamerkan Goethe Haus Jakarta.


Lahir pada 1965 di Hamburg, Julia Kaergel mengenyam pendidikan di bidang Ilustrasi dan Desain Buku dan sejak 1998 bekerja sebagai ilustrator lepas di studio pribadinya di Hamburg. Penghargaan terakhir yang ia terima adalah penghargaan untuk kategori buku anak-anak dari negara bagian Northrhine-Westphalia untuk karyanya bersama Doris Dörrie, berjudul Mimi. Ini adalah buku cerita bergambar yang diterbitkan oleh Diogenes. Karya-karyanya sempat dipamerkan di Goethe Haus-Jakarta dan Institut Seni Indonesia Yogyakarta. Berikut hasil bincang-bincang saya.

 

Ceritakan dengan sederhana, apa yang dikerjakan seorang ilustrator?


Pekerjaan yang penuh petualangan dan seru. Seorang ilustrator  menyampaikan, melengkapi, atau mewujudkan pesan tertulis dalam bentuk gambar, sehingga menjadi lebih jelas. Sebagai karya, ia bisa berbentuk iklan, poster, buku, hal-hal menyangkut penjelasan teknis, dan banyak macam lainnya. Menjadi ilustrator membutuhkan keahlian serta tantangan tersendiri untuk menghasilkan gambar yang tepat untuk setiap ide atau naskah.

 

Hal apa saja yang perlu diperhatikan dalam menggambar buku cerita untuk anak? Apakah Anda memerlukan riset atau wawancara dengan anak-anak?


Banyak teori dalam dunia pendidikan yang mengajarkan bagaimana membuat buku cerita bergambar untuk anak. Bahkan, dengan lebih mendetail, seperti untuk anak-anak usia 3-6 tahun, dan seterusnya. Semua itu bisa dipelajari. Namun, yang lebih penting dari semua itu, justru bagaimana buku cerita bergambar untuk anak bisa juga dinikmati oleh orang dewasa. Untuk itu, diperlukan imajinasi. Kita harus membekali diri dengan berbagai pendekatan guna mentransfer ide, pesan, atau cerita menjadi gambar yang tepat. Kadang-kadang, kita harus bermain-main dengan anak-anak. Ketika mengerjakan gambar pun, perasaan kita harus senang.
Tapi, ada kalanya saya bekerja sama dengan pengarang cerita, sehingga saya pun melakukan sejumlah riset terkait cerita tersebut. Misalnya, ketika saya bekerja sama dengan Doris Dörrie dalam menggarap cerita Mimi and Mozart. Buku ini mengisahkan pertemuan Wolfgang Amadeus Mozart dengan Mimi ketika Mimi sedang bermain piano. Kemudian, Wolfgang mengisahkan hidupnya dengan gaya kilas balik ke era 1800-an di Salzburg.
Selama menggarap buku tersebut, saya ingin sekali tahu seperti apa kehidupan di Salzburg. Untuk itu, saya berkunjung ke kota itu dan bertemu Doris. Saya menggambar dan membicarakan gambar tersebut dengan Doris. Saya juga mengunjungi museum-museum untuk mendapatkan gambaran masa lalu. Benarkan, seperti saya bilang, membuat gambar untuk sebuah buku sungguh sebuah petualangan!

 

Apakah Anda menjalani proses yang sama ketika mengerjakan buku cerita yang ceritanya Anda tulis sendiri?


Tentu saja berbeda. Kadang-kadang, saya memulai dengan menggambar apa saja. Kadang-kadang sesuatu yang buat saya sendiri misterius. Bisa juga saya terinspirasi dari warna atau sebuah figur yang saya buat. Tidak jarang juga tiba-tiba saya mendapatkan ide mengenai sebuah cerita sekaligus dengan konsep visualnya.

 

Bagaimana ‘melatih’ kemampuan seorang ilustrator?


Jika melalui jalur formal, sebaiknya Anda juga mempelajari banyak hal, seperti melukis, menggambar, fotografi, stop motion movie, seni digital dan lainnya. Anda harus memiliki style sendiri. Untuk itu, tidak ada cara lain selain berlatih setiap hari. Bagaimana melatihnya? Mulailah menggambar dan jangan berhenti.
Apakah ada karya ilustrator lain yang mempengaruhi karya Anda? Siapa dan mengapa?
Wolf Erlbruch, seniman dan pengajar yang karya-karyanya sangat dikenal di Jerman. Ia memiliki gaya tersendiri yang sangat khas dan menarik. Karyanya sangat tidak biasa, mulai dari tata letak, hingga gambar yang memberi ruang buat pembaca untuk menafsirkan dan memberi arti sendiri. Banyak pihak mengkritik karyanya sebagai karya yang tidak dibuat untuk anak-anak. Tapi menurut saya, karyanya senantiasa memiliki daya tarik untuk ana-anak.

 

Saat ini, Anda sedang mengerjakan apa?


Ada dua buku yang sedang saya garap. Buku pertama sangat artistik, hanya gambar, tanpa teks. Memadukan sejumlah teknik, seperti cukil kayu, gambar, dan fotografi. Namun tetap memiliki pesan, yaitu seputar growing and passing away.
Satu lagi, sebuah buku bertemakan kehidupan yang Anda inginkan. Sebuah karya yang sangat personal, karena pembaca juga dapat terlibat menuliskan idenya sendiri. Selama perjalanan di Indonesia, semoga saya mendapatkan ide baru untuk proyek saya selanjutnya.

Ilustrasi karya Julia Kaergel
Ilustrasi karya Julia Kaergel

Tulisan ini dimuat di Area Magazine, atau  klik disini.

Eko Supriyanto (Koreografer), "Saya Sempat Berhenti Menari, Karena Dianggap Banci"


Dimuat majalah Area, edisi 12 januari 2011.

Penari, pengajar dan koreografer yang memiliki nama kecil Budiyanto ini meroket ketika menjadi  penari dan koreografer   dalam tur konser Madonna Drowned World di Amerika dan Eropa tahun 2001. Belakangan ia juga bekerjasama dengan sutradara Garin Nugroho dan melahirkan  film Opera Jawa dan Generasi Biru. Konsultan tari untuk musical Lion King produksi Disney yang dipentaskan di Pantages’s Theater Hollywood ini, mempelajari tari keraton jawa dan seni bela diri pencak silat sejak ia berumur tujuh tahun dari kakeknya di Magelang, Jawa Tengah.

Anda penari dan juga koreografer, bisa ceritakan 'kepuasan' yang anda rasakan dengan menjalani dua profesi tersebut?

Kepuasan sebagai penari sangat tergantung pada pencapaian teknik kepenarian dan karaktrer yng disajikan dalam tariannya, jadi lebih pada fisik  dan kemampuan menyajikan. Sedangkan   sebagai koreografer utamanya  bagimana karya dapat diterima oleh penonton, menimbulkan sebuah gagasan permasalahan untuk dibahas dan didiskusikan. Kepuasan ini nampaknya yang saya akan cari untuk melihat karya atau juga kepenarian saya

Bagaimana  proses kreatif anda sebagai koreografer, dalam menyiapkan sebuah tarian?

Sepuluh tahun terakhir karya saya banyak terispiraasi dari musik. Saya mendengarkan berbulan-bulan hingga menciptakan imajinasi visual. Kemudian memilih penari yang sesuai dan memulai proses latihannya. Tema kadang atau sering kali muncul setelah rancangan kasar karya terbentuk, hingga kemudian memulai melakukan riset untuk menunjang konsepnya dan mengundang beberapa teman atau senior saya untuk mendiskusikan tema/konsep.
  
Dalam anggapan masyarakat awam lelaki sepertinya masih dianggap 'kurang maskulin' karena menari. Bgm tanggapan anda ?

Sewaktu Sekolah Menengah, saya sempat berhenti menari karena dibilang banci. Sampai kelas 3,  ketika ada ekstra kurikuler wajib saya harus memilih antara sepak bola atau tari, saya memilih nari sampai saya masuk STSI (sekarang ISI SOLO). Ternyata justru rasa maskulin itu lebih muncul karena pelatihan penjiwaan dan karakter dalam  tari. Tari tradisi justru lebih jelas, juga latihan yoga silat dan gym membentuk tubuh ideal penari justru meyakinkan saya kalau menjadi penari tidak menjadi labih feminim, tetapi lebih peka terhadap rasa dan ketika mengungkapnya ke dalam gerak lebih dapat memilahkannya.

Dibanding Film atau Musik, sepertinya dunia tari tidak begitu 'semarak' ya ?

Nggak juga, justru film dan musik juga hanya pada kisaran itu-itu saja. Dalam konteks industri, musik maupun film masih ‘kalah’ dalam pasar international. Sedangkan tari, malah makin diminati, terlebih dengan semakin maraknya produksi Musikal belakangan ini. Indonesia memiliki lebih dari 2000 jenis. Kebetulan saja tari hip hop dan breakdance mendapatkan ekpose dari media. Padahal banyak tari tradisi Indonesia, seperti pencak silat yang sangat menarik, terlebih jiga dipadukan dengan breakdance, capoeira asal Brasil, dengan iringan musik kendang sunda. “Karya’ ini yang justru akan membuat masyarakat international terheran-heran.

Apa rencana Anda yang akan datang?

Desember lalu diundang ke Belgia utnuk pentas dan  workshop topeng, Januari  saya menari di konsernya Titi  DJ, lalu  Februari jadi  juri lomba tari di Jakarta juga proses shoting film bersama Joko Anwar. Sedangkan November dan Desember saya akan ngajar dan menari di Amerika, Jepang serta Singapura. Disaat yang sama saya sedang menyelesaikan desertasi Doktor saya di UGM di bidang Pengkajian Seni Pertunjukan.