Sabtu, 09 April 2011

Eko Supriyanto (Koreografer), "Saya Sempat Berhenti Menari, Karena Dianggap Banci"


Dimuat majalah Area, edisi 12 januari 2011.

Penari, pengajar dan koreografer yang memiliki nama kecil Budiyanto ini meroket ketika menjadi  penari dan koreografer   dalam tur konser Madonna Drowned World di Amerika dan Eropa tahun 2001. Belakangan ia juga bekerjasama dengan sutradara Garin Nugroho dan melahirkan  film Opera Jawa dan Generasi Biru. Konsultan tari untuk musical Lion King produksi Disney yang dipentaskan di Pantages’s Theater Hollywood ini, mempelajari tari keraton jawa dan seni bela diri pencak silat sejak ia berumur tujuh tahun dari kakeknya di Magelang, Jawa Tengah.

Anda penari dan juga koreografer, bisa ceritakan 'kepuasan' yang anda rasakan dengan menjalani dua profesi tersebut?

Kepuasan sebagai penari sangat tergantung pada pencapaian teknik kepenarian dan karaktrer yng disajikan dalam tariannya, jadi lebih pada fisik  dan kemampuan menyajikan. Sedangkan   sebagai koreografer utamanya  bagimana karya dapat diterima oleh penonton, menimbulkan sebuah gagasan permasalahan untuk dibahas dan didiskusikan. Kepuasan ini nampaknya yang saya akan cari untuk melihat karya atau juga kepenarian saya

Bagaimana  proses kreatif anda sebagai koreografer, dalam menyiapkan sebuah tarian?

Sepuluh tahun terakhir karya saya banyak terispiraasi dari musik. Saya mendengarkan berbulan-bulan hingga menciptakan imajinasi visual. Kemudian memilih penari yang sesuai dan memulai proses latihannya. Tema kadang atau sering kali muncul setelah rancangan kasar karya terbentuk, hingga kemudian memulai melakukan riset untuk menunjang konsepnya dan mengundang beberapa teman atau senior saya untuk mendiskusikan tema/konsep.
  
Dalam anggapan masyarakat awam lelaki sepertinya masih dianggap 'kurang maskulin' karena menari. Bgm tanggapan anda ?

Sewaktu Sekolah Menengah, saya sempat berhenti menari karena dibilang banci. Sampai kelas 3,  ketika ada ekstra kurikuler wajib saya harus memilih antara sepak bola atau tari, saya memilih nari sampai saya masuk STSI (sekarang ISI SOLO). Ternyata justru rasa maskulin itu lebih muncul karena pelatihan penjiwaan dan karakter dalam  tari. Tari tradisi justru lebih jelas, juga latihan yoga silat dan gym membentuk tubuh ideal penari justru meyakinkan saya kalau menjadi penari tidak menjadi labih feminim, tetapi lebih peka terhadap rasa dan ketika mengungkapnya ke dalam gerak lebih dapat memilahkannya.

Dibanding Film atau Musik, sepertinya dunia tari tidak begitu 'semarak' ya ?

Nggak juga, justru film dan musik juga hanya pada kisaran itu-itu saja. Dalam konteks industri, musik maupun film masih ‘kalah’ dalam pasar international. Sedangkan tari, malah makin diminati, terlebih dengan semakin maraknya produksi Musikal belakangan ini. Indonesia memiliki lebih dari 2000 jenis. Kebetulan saja tari hip hop dan breakdance mendapatkan ekpose dari media. Padahal banyak tari tradisi Indonesia, seperti pencak silat yang sangat menarik, terlebih jiga dipadukan dengan breakdance, capoeira asal Brasil, dengan iringan musik kendang sunda. “Karya’ ini yang justru akan membuat masyarakat international terheran-heran.

Apa rencana Anda yang akan datang?

Desember lalu diundang ke Belgia utnuk pentas dan  workshop topeng, Januari  saya menari di konsernya Titi  DJ, lalu  Februari jadi  juri lomba tari di Jakarta juga proses shoting film bersama Joko Anwar. Sedangkan November dan Desember saya akan ngajar dan menari di Amerika, Jepang serta Singapura. Disaat yang sama saya sedang menyelesaikan desertasi Doktor saya di UGM di bidang Pengkajian Seni Pertunjukan.

1 komentar: